Keterangan Lengkap Tentang Bid’ah dan Jenis-Jenisnya

Bid’ah ditinjau secara etimologis bermakna menciptakan sesuatu yang belum ada persamaannya. Sedangkan versi istilahnya, bid’ah adalah diartikan sebagai mengerjakan sesuatu yang tidak pernah ada (tidak diajarkan) pada era kenabian Muhammad saw. Begitu juga menurut ‘izz Ad Din Ibnu ‘Abd As Salam dalam kitab Qowa’id Al Ahkam:

Bid’ah merupakan semua perbuatan yang belum ada atau tak dikenal pada zamannya Rasulullah saw” .

Definisi ini dipahami dari literatur redaksi hadits rasulullah yang menyebutkan bid’ah dengan istilah al-muhadatsat (hal-hal yang baru). Rosulullah bersabda yang artinya “ berhati-hatilah kalian terhadap muhdatsat (hal-hal baru) karena sesungguhnya semua muhdatsat itu bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat. ” (H. R. Abu dawud, Ahmad, Ibnu majah).

Dengan demikian, definisi bid’ah mencakup semua hal baru yang belum ada pada zaman rasulullah saw. Baik yang berkaitan dengan ibadah ataupun tidak, bersifat duniawi maupun ukhrowi, kontradiksi dengan hokum syari’at ataupun tidak. Oleh karena itu, dalam memahami masalah hal ini sangat diperlukan klasifikasi verifikatif pembagian dan pemilahan guna membedakan  antara standarisasi bid’ah yang diperbolehkan dan yang dilarang (hasanah dan sayyi’ah).

Pembagian Bid’ah

Al-Imam Asy-Syafi’I berkomentar, bid’ah secara umum dibagi menjadi dua, yaitu bid’atul hasanah (bid’ah baik) dan bid’atus sayyi’ah (bid’ah buruk). Bahkan, pembicaraan bid’ah secara terperinci versi syaikh ‘Izuddin Ibnu Abdi Assalam dalam kitab Qowa’id Al-Ahkam dan Imam Jalal Ad Din As-Suyuthi dalam kitab Tanwir Al-Halik Syarh Al-Muwaththa’ menegaskan bahwa bid’ah diklasifikasi menjadi lima versi.

Pembagian bid’ah tersebut dikaitkan dengan lima komponen hokum yang sudah membumi, yakni wajib, sunah, mubah, makruh, haram.

Pengertian Bid’ah Hasanah

Bid’ah hasanah, merupakan bid’ah yang aktivitasnya bertabrakan dengan doktrin Al-Qur’an, hadits, ucapan dan perbuatan sahabat serta ijma’ (kesepakatan kebanyakan ulama). Dengan demikian bid’ah hasanah dibagi lagi menjadi tiga macam. Berikut akan saya sebutkan macam dan contoh-contohnya bid’ah hasanah.

 

Pertama, yaitu bid’ah hasanah wajibah (bid’ah yang hukumnya wajib), bid’ah yang ini digunakan untuk memunculkan hal-hal yang diwajibkan syara’. Contohnya: Mempelajari ilmu Nahwu, Sorof, Balaghoh, dan lain-lain. Karena hanya sebab ilmu-ilmu ini seseorang dapat memahami Al-Qur’an dan hadits secara sempurna. Sedang, memahami Al-Qur’an dan hadits demi memelihara agama hukumnya wajib.

Kedua, bid’ah hasanah mandubah (bid’ah yang sunah hukumnya), yaitu bid’ah yang baik (sesuai dengan Al-Qur’an dan bersifat menghidupkan sunnah Nabi Muhammad saw), contohnya: mendirikan madrasah,pesantren, kantor-kantor, dan sarana kebaikan lainnya yang tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad saw, mengadakan peringatan mauled Nabi Muhammad saw.

 

Ketiga, bid’ah mubahah, yakni segala bid’ah yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw. Serta tidak dianjurkan pula untuk melakukannya. Contohnya: Berjabat tangan setelah shalat lima waktu menurut Imam Nawawi, menggunakan kendaraan bermotor, membuat rumah megah, makan minum yang lezat dan variatif.

Pengertian Bid’ah Sayyi’ah

Dalam hal inilah yang seharusnya difahami bagi para ahli klaim bid’ah, supaya tidak sembarangan menganggap yang lainnya sebagai pelaku bid,ah. Bid’ah sayyi’ah disebut dengan bid’ah dlalaalah atau bid’ah madzmuumah. Ini mengandung pengertian bid’ah yang menyimpang dari  aturan Al-Qur’an, hadits, ucapan, dan perbuatan sahabat serta ijma’ ulama. Ditinjau dari keontetikan (keaslian)  hukumnya, bid’ah sayyi’ah terbagi menjadi dua, yaitu:

Pertama, Bid’ah Makruhah yakni semua bid’ah yang berhubungan dengan hukum makruh. Contoh: Menghiasi Masjid dengan hiasan yang berlebihan, mengkonsumsi bawang merah, bawang putih berlebihan.

Kedua, Bid’ah Muharramah, yakni bid’ah yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad saw. Contohnya: menganggap Najis atau mengklaim kafir orang muslim yang berbeda aliran, memiliki istri lebih dari empat, Ikut merayakan Natal, ajaran dogmatis madzhab Jabariyyah dan Murji’ah.

Ditanjau dari sudut pandang lain, dengan cara mempertimbangkan ruang lingkupnya, bid’ah sayyi’ah terbagi menjadi dua, yaitu: Pertama, Bid’ah dalam masalah Ushuluddin ( aqidah, tauhid, keyakinan). Yakni, aqidah yang menyalahi atau tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw dan para sahabat, contohnya: keyakinan bahwa alam tercipta melalui evolusi, bukan karena kuasa Allah swt.

Bid’ah dalam masalah ushuluddin harus dihindari sebab selain berdampak dosa, tindakan bid’ah pada ideology ini bisa menyebabkan kufur.

Kedua, Bid’ah dalam furu’uddin ( selain masalah aqidah), yakni tindakan bid’ah yang tidak mencakup ruang lingkup akidah dan keyakinan. Seperti: Penulisan lafadz “Shollallaahu ‘alaa Muhammad” disingkat dengan huruf “Shod”, bertayamum menggunakan sajadah dan bantal yang tidak ada debunya. Itulah macam-macam bid’ah dan keterangannya yang sangat simple.

Dari klasifikasi hukum diatas dapat dipahami bahwa tidak semua bid’ah itu dilarang dan tidak setiap hal baru yang tidak diajarkan Rasulullah saw disebut/ dikategorikan sebagai bid’ah yang harus dihindari. Ada bid’ah sunnah, bahkan adapula  bid’ah yang wajib dilakukan. Jadilah umat muslim yang dewasa, yang cerdas dalam menyikapi segala hal, jangan memberi hukum tanpa didasari ilmu.

Kemudian, bagaimana cara-cara yang akurat dalam membedakan bid’ah yang dilarang dan yang diperbolehkan? Mana yang termasuk kategori bid’ah hasanah dan mana pula yang termasuk bid’ah sayyi’ah? Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Hujjah Ahlussunah Wal Jama’ah menaarkan tiga cara jitu agar bisa membedakan bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.

Pertama, jika perbuatan itu memiliki kecendrungan akurat dan dalil-dalil syar’I, baik yang universal maupun parsial. Maka kasus dizaman sekarang tidak dikategorikan bid’ah sayyi’ah, sebaliknya jika tidak ada dalil yang dapat dijadikan sandaran, maka perbuatan itu termasuk bid’ah yang dilarang.

Kedua, memperhatikan ajaran dan prilaku ulama salaf (ulama abad 1,2, dan 3 H). Bila diajarkan oleh mereka, minimal memiliki dasar atau dalil yang kuat dari ajaran dan kaidah yang mereka buat, maka perbuatan itu bukan dikategorikan bid’ah yang dilarang.

Ketiga, diteliti dengan metode qiyas, yaitu dengan cara menganalogikan perbuatan tersebut dengan perbuatan yang telah jelas hukumnya. Bila condong dan berpotensi dihukumi haram, maka perbuatan itu masuk dalam kategori bid’ah sayyi’ah muharramah, jika memiliki kecendrungan pada perbuatan wajib, maka dikategorikan bid’ah hasanah wajibah, dan begitu juga seterusnya.

Mumgkin hanya itulah sedikit pengetahuan tentang bid’ah, semoga dapat bermanfaat bagi seluruh muslim di penjuru dunia, kita harus hati-hati dalam menyampaikan hukum, apalagi menghakimi perbuatan seseorang, jangan anda ikuti sebagian kelompok islam mengklaim secara serampangan bahwa setiap bid’ah sesat.

Lafadz kullu dalam potongan hadits Wa kullu bid’atin dlalaalatun itu bersifat universal. Maksudnya, tidak bisa dikonsumsi secara terpotng-potong begitu saja. Sebab apabila dikonsumsi/ dipahami hanya dari sepotong-sepotong akan terjadi kontradiksi dengan pemahaman beberapa hadits lain, intinya jangan asal ndalil.

Habib Novel Bin Muhammad Alydrus menuliskan bahwa hadits diatas harus ditakwil. Yakni, dengan memperkirakan istilah yang tersimpan setelah kata “Bid’atin”. Dominasi ulama sepakat bahwa istilah yang dibuang tersebut memiliki arti bertabrakan dengan syari’at. Sehingga, secara implisit hadits tersebut bermakna: Setiap bid’ah yang bertentangan dengan syari’at adalah sesat, dan setiap kesesatan akan berada dineraka.

Kalimat ini secara tekstual tidak dituangkan dalam redaksi hadits karena sudah bisa dipahami oleh pembaca atau pendengarnya.

 

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>